• Tim Sukses Negarawan Muda

3 pengusaha yang menginspirasi kami mendirikan Negarawan


From Nothing to… So Many Things

Bukti bahwa kerja keras yang konsisten akan mengundang keberuntungan.

Halo, Negarawan Muda. Hari ini kami akan bercerita sedikit tentang beberapa tokoh sukses yang memulai usahanya dari nol. Yah, semacam kisah from zero to hero, yang sebenarnya penting untuk mengingatkan kita bahwa ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’ itu bukan hanya sekedar peribahasa yang harus diketahui ketika masih SD.

Sudah siap?

Richard Branson


Richard (kesannya kenal) dikeluarkan dari sekolah ketika berusia 16 tahun karena penyakit disleksia (gangguan dalam perkembangan baca-tulis), yang membuatnya sulit untuk berkonsentrasi. Ia pun memulai bisnis sukses pertamanya, yaitu majalah bernama The Student, yang dibuat oleh dan untuk sesama murid dan mahasiswa. Branson berhasil mendapatkan deal iklan dengan banyak perusahaan, sehingga 50,000 majalah The Student bisa dibagikan secara gratis. Setelah itu, Richard memulai bisnis penjualan rekaman musik via pos bernama Virgin, yang berkembang menjadi Virgin Megastore, toko berisi aneka rekaman musik. Tidak berhenti di situ, Richard mendirikan Virgin Music, studio rekaman yang menelurkan banyak musisi ternama, seperti Genesis, The Rolling Stones dan The Culture Club. Singkat cerita, lahirlah Virgin Group yang berkembang di bidang maskapai penerbangan, bidang seluler, keuangan, eceran, musik, internet, minuman, kereta api, hotel dan tempat traveling; yang tersebar di lebih dari 30 negara di dunia.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari Richard Branson? Bukan, kami tidak mengharapkan Anda menjawab dengan, “Buset, ni orang kaya banget sih, mana keren lagi gayanya.”

Biar kami bantu, ya. Salah satu yang bisa kita pelajari dari Richard adalah bahwa modal utama yang diperlukan untuk membangun bisnis adalah keberanian untuk berimajinasi dan mewujudkannya.

Oh, ya, Richard juga menitipkan pesan untuk Anda para Negarawan Muda, “Jangan pernah melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai, dan jangan lupa, bisnis itu selalu datang bersama resiko.”

Chairul Tanjung


Siapa yang tidak kenal sosok yang akrab dipanggil CT ini? Pria ini adalah seorang konglomerat yang namanya masuk di daftar 1000 orang terkaya di dunia. Ketika masih kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI, CT mengalami kesulitan untuk membayar uang kuliah. Kesulitan ini menginspirasinya untuk mulai bisnis kecil-kecilan, seperti menjual buku kuliah fotokopi kaos, dan sebagainya. Setelah usahanya untuk membuka usaha kontraktor gagal, CT akhirnya bekerja di perusahaan rotan di mana ia bertemu dengan tiga orang rekan bisnisnya, dan mendirikan perusahaan yang memproduksi sepatu anak-anak untuk diekspor. Kali ini bisnisnya cukup berhasil. Akan tetapi karena adanya perbedaan pendapat, CT memutuskan untuk lepas dari bisnis tersebut dan mulai mengarahkan usahanya ke bidang keuangan dengan mengambil alih Bank Tugu yang sekarang berubah menjadi Bank Mega. Tidak hanya itu, CT juga merambah ke bisnis sekuritas, dan asuransi, serta memiliki perusahaan real estate yang membangun Bandung Supermall.

CT juga berkecimpung di bisnis pertelevisian dengan mendirikan Trans Corp, yang membawahi Trans TV dan Trans 7. Lalu CT juga mengakuisisi PT. Carrefour Indonesia, dan sekarang telah menjadi komisaris utama. Ya, intinya Chairul Tanjung adalah seorang konglomerat, dan kita bukan (baca: belum--Amien). Tapi jangan lupa, bahwa beliau mengawali perjalanannya dengan kesulitan finansial yang kemudian dikombinasikannya dengan sifat yang tidak mudah menyerah.

Saat ditanya mengenai rahasia kesuksesannya, CT menjawab, “Sukses itu tergantung diri sendiri. Yang jelas, pengusaha itu tidak ada yang cengeng dan mudah menyerah.”

Bruno Hasson


Pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1989 saat mengerjakan tesisnya, Bruno langsung jatuh cinta. Lulusan Institut Pertanian Pemerintah Prancis ISTOM (Institut Superieur des Techniques d' Outre-Mer) ini langsung berencana untuk kembali lagi untuk membuka usaha. Usaha awalnya adalah jual-beli alat industri pertanian, alat pengemasan, dan alat praktek dokter. Selagi menjalankan usahanya, istrinya mulai membuat desain tas, yang dijadikan bisnis sampingan oleh Bruno.

Usaha tas yang dia namai seperti nama istrinya, Sophie Martin (membuat brandnya terdengar seperti brand dari Prancis, bukan?) dimulai di lantai dua sebuah ruko. Lantai satunya digunakan Bruno untuk menjual peralatan baja. Saat itu masih sulit untuk untuk memasarkan produk fashion melalui pusat belanja, karena jumlah mall masih sedikit. Kemudian tiba-tiba ada seorang perempuan yang ngotot ingin menjual produknya di Bandung, dan ternyata laris.

Bruno pun melihat kesempatan untuk memasarkan produknya lewat direct selling, karena cara itu udah dan efisien, mengingat masih sulitnya akses untuk mendistribusikan produknya kemana-mana. Usaha sampingannya pun mulai usaha menjadi utama. Bruno, yang dikenal sebagai seseorang yang menolak menyerah, membuktikan komitmennya ketika terjadi kerusuhan tahun 1998. Di saat banyak pengusaha asing hengkang dari Jakarta, ia tetap bertahan, dan pertahanannya membuahkan berkah. Banyak kompetitor menyerah, sehingga kesempatannya semakin besar untuk menjadikan Sophie Martin sebagai brand besar di Indonesia, hingga sekarang produknya sudah diekspor ke Maroko dan Filipina.

Bruno bukan lulusan bisnis, ia hanyalah seseorang dengan imajinasi dan semangat yang besar untuk maju. Katanya, “Saya datang ke Indonesia dalam keadaan tidak punya uang. Tapi saya punya mimpi dan komitmen terhadap diri sendiri.”

Nah, ternyata tidak semua pengusaha sukses itu memang sudah ‘kaya dari sananya’, kan? Kami pun percaya bahwa keberuntungan hanya akan datang setelah kita berusaha keras.. Jadi, sudahkah Anda berusaha keras hari ini (atau di kehidupan ini)? Siapa tahu, keberuntungan dan kesuksesan sudah on the way menuju Anda.

Ditulis oleh:


Marsha Habib

Marsha Habib percaya bahwa salah satu cara terbaik untuk belajar adalah dengan menulis mengenai hal tersebut. Jadi kalau kalian merasa apa yang ditulisnya membingungkan, ingat saja, "Namanya juga masih belajar."


Testimonial Negarawan Muda

Saya hampir tdk pernah beli batik jadi, tapi kemarin pas coba langsung suka bgt.

Great job.

- @wishnutama

Terima kasih @sayanegarawan yang selalu membantu aku menjadi lebih pede dan karismatik dengan pilihan pilihan batik kalian.

- @giring

Mereka tahu banget apa yg harus mereka lakukan terhadap produknya dan mereka tahu banget bagaimana nyari batik yg cocok untuk calon pembelinya. [...] Jadi gue cukup merasa nyaman dan cukup merasa aman untuk beli Negarawan.

- @igamassardi

Subscribe untuk update

  • Instagram Clean Grey
  • Twitter Clean Grey